Dia menjelaskan panjang lebar mengenai geopolitik Sukarno, berbasis pada hasil riset doktoralnya di Universitas Pertahanan RI.
Dijelaskannya bagaimana teori geopolitik ala Barat yang berwatak penjajahan, berbeda dengan teori Sukarno yang didasarkan pada ideologi Pancasila.
Karena berbasis Pancasila, teori geopolitik Sukarno bertujuan membangun tata dunia baru dengan membangkitkan solidaritas bangsa-bangsa agar dunia terbebas dari kolonialisme dan imperialisme, serta mengedepankan koeksistensi damai.
Dalam masa kekinian, menurut Hasto, teori itu masih relevan jika dikaitkan dengan kebinekaan Indonesia.
“Kerangka berpikir Indonesia merdeka yang satu, untuk semua rakyat Indonesia tanpa membeda-bedakan suku, agama, status, sosial, jenis kelamin tersebut oleh Bung Karno diformulasikan ke dalam Pancasila, terutama sila ketiga, Persatuan Indonesia,” jelas dia.
Indonesia harus membangun kepemimpinannya di dunia dengan menempatkan prinsip kebinekaan sebagai instrumen kekuatan nasional, sesuai teori geopolitik Sang Proklamator Sukarno atau Bung Karno.


