“Kita tidak bisa tangkap dia. Tapi terasa di tangan kita. Sepanjang sensitivitas itu masih ada pada kita, itu adalah modal yang besar dalam menentukan pilihan,” katanya.
Bicara Pemilu 2024, Paloh menilai setiap partai harus bisa membaca emosi publik dan dia meyakini emosi itu berubah sejak Pilpres 2019. Menurut dia, publik telah capek dengan lip service atau janji manis.
“Emosi publik ini barangkali mengarah pada sesuatu yang mereka harapkan siapa yang berjiwa besar untuk mengajukan kepentingan negeri ini. Mereka sudah capek dengan lip service,” katanya.
(thr/sfr)
Page 2 of 2


