“Begini ndak boleh, begitu ndak boleh yang membuat ruang musyawarah menjadi tidak ada. Sehingga semua pendapat terlihat sama dan apa lagi yang harus dimusyawarahkan. Semuanya sama dan semuanya diatur,” ujar Eka.
Menurut Eka tertutupnya ruang diskusi tersebut dapat dirasakan di seluruh Indonesia, sehingga semua pendapat terlihat sama dan tidak dibutuhkan lagi, “kato musyawarah jo mufakaik” dalam mengambil keputusan.
Terkait tidak adanya tokoh populer yang berasal dari Sumbar, Pakar Sosiologi Politik Universitas Negeri Padang (UNP) Eka Vidya Putra mengatakan permasalahan itu juga tengah dihadapi tingkat Nasional. Ia berkaca demikian karena melihat dari tokoh calon presiden selama dua periode yang itu-itu saja, yaitu Joko Widodo dan Prabowo Subianto.
Tidak hanya itu, menurut Eka, para menteri dan anggota legislatif juga berasal dari orang-orang yang sama. Bahkan ada beberapa nama yang sudah hilang, kemudian muncul lagi.
“Jejak menteri dan legislatif juga lu lagi lu lagi isinya. Bahkan sudah ada yang hilang kemudian muncul lagi,” jelas Eka.
Eka mengatakan, hal itu dapat terjadi akibat tidak adanya proses rekruitmen yang bagus dari setiap partai politik. Bahkan partai politik sekarang mengedepankan siapa yang punya uang dan popularitas dibandingkan, mencari tokoh-tokoh muda yang memiliki integritas dan idealisme, dan pemikiran yang baik.


