Dan, sambung Putra, para pelaku usaha online itu paling terdampak oleh pandemi COVID-19. Dia pun mempertanyakan, bagaimana rencana Agus untuk membuat para pekerja sektor informal itu tetap menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.
“Bagaimana rencana anda untuk mereka, dikala penghasilan mereka ngos-ngosan? Bagaimana cara anda untuk ‘merayu’ mereka membayar iuran? Tak cukup dibutuhkan Agent of change, tapi harus ada upaya yang lebih untuk mengajak mereka,” ujar Putra.
Putra juga meminta penggunaan Big Data harus digunakan oleh BPJS Ketenagakerjaan untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta.
Dia mengingatkan, bahwa Big Data harus menjadi instrumen dalam melakukan profiling terhadap para peserta. Sebab, para peserta itu beragam, seperti karyawan baru dan karyawan yang mau pensiun.
“Keinginan dan cita-cita mereka berbeda-beda, tingkat ekonomi nya juga beda-beda. Seharusnya Big Data ini bisa digunakan untuk sebesar-besarnya untuk keinginan para peserta berikut mimpi-mimpi mereka ketika pensiun,” ujar Putra.
“Jadi Big Data itu bukan sekedar untuk kebutuhan konsolidasi data, tapi juga untuk melayani peserta,” tambahnya.


