“Sebenarnya kita ada di dalam posisi yang dilematis. Dilema tiga periode ini memang sengaja diciptakan untuk mendistorsi fokus apa yang harus dibahas di ranah masyarakat?,” terang Bhima di pembicaraan yang sama.
“Seperti contoh, jika kita berbicara tentang kinerja menteri BUMN, memang masalah yang ada pada BUMN sudah selesai? Ini lah yang sebenarnya ingin didengar oleh publik,” tegasnya.
“Seharusnya publik mendapatkan informasi tentang hal-hal yang pokok dan elementer.”
Di akhir pernyataan, Bhima Yudhistira juga tak lupa untuk memberikan sentilan khusus yang ditujukan kepada kinerja para menteri.
“Yang penting adalah kinerja, bukan mengutamakan safari politik karena itu sangat mengganggu sekali,” cetus Bhima.
“Yang dibutuhkan bukan menteri yang panjat sosial, yang kebanyakan main ke medsos, ke podcast, dan bikin baliho yang kita tidak tahu tujuannya apa,” pungkasnya.
Sebelumnya, Ketum Relawan Projo Budi Arie Setiadi kembali menghidupkan wacana tiga periode Presiden Jokowi. Budi menyatakan kemungkinan untuk Presiden Jokowi meneruskan masa jabatannya tetaplah ada.
“Kalau metaforanya balapan, 2024 itu tikungannya banyak dan tajam-tajam, karena masih banyak kemungkinan. Dalam balap itu kita nggak bisa menduga siapa pemenang di lap terakhir. Nah, ini 2024 sama, ketidakpastian, unpredictable-nya tinggi sekali. Saya bilang ke teman-teman Projo, kita harus jeli, jangan-jangan tiga periode, jangan-jangan perpanjangan masa jabatan,” kata Budi Arie dalam diskusi k’Adu Perspektif: Salip-Menyalip Politik di Luar Sirkuit.


