“Sesuai dengan cita-cita bangsa luhur bangsa Indonesia adalah masyarakat adil dan makmur. Di mana yang diucapkan pertama adalah adil, baru makmur. Bukan makmur baru adil. Sebab kemakmuran tidak menjamin keadilan. Karena biasanya yang sudah makmur tidak peduli pada yang belum makmur. Tetapi keadilan lebih menjamin kemakmuran,” kata dia.
Begitu juga keadilan dan sejahtera. Kata sejahtera, kata dia, setingkat lebih tinggi dari makmur. Karena kalau kemakmuran berhenti pada kebendaan, tapi kalau kesejahteraan di atasnya yaitu tak hanya kebendaan tapi juga akhlak, budi pekerti, kesetiaan, patriotisme dan hal-hal tak benda.
“Hal-hal tak benda ini yang membedakan antara satwa dengan manusia,” kata dia menegaskan.


